Ketika memilih saham, investor biasanya lebih dahulu melihat harga, kapitalisasi pasar, laporan keuangan, atau prospek bisnis perusahaan. Padahal, ada satu informasi lain yang tidak kalah penting, yaitu free float saham.
Free float menunjukkan seberapa besar porsi saham perusahaan yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan oleh publik. Angka ini dapat mempengaruhi likuiditas, pergerakan harga, hingga kemudahan investor ketika ingin membeli atau menjual saham.
Karena itu, kapitalisasi pasar yang besar belum tentu membuat suatu saham mudah diperdagangkan. Jika sebagian besar sahamnya dikuasai oleh pengendali atau pemegang saham strategis, jumlah saham yang beredar di pasar bisa tetap terbatas.
Apa Itu Free Float Saham?
Free float saham adalah bagian dari saham tercatat yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas oleh investor publik di pasar sekunder.
Mengacu pada ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham free float pada dasarnya mencakup saham yang dimiliki oleh pemegang saham dengan kepemilikan kurang dari 5% dari seluruh saham tercatat. Namun, kepemilikan di bawah 5% saja belum tentu otomatis dikategorikan sebagai free float.
Dalam ketentuan terbaru BEI, saham free float antara lain tidak termasuk saham yang:
- Dimiliki oleh pengendali atau pihak yang terafiliasi dengan pengendali;
- Dimiliki oleh anggota direksi atau dewan komisaris;
- Merupakan saham hasil pembelian kembali atau saham treasuri;
- Dibatasi untuk diperdagangkan atau dialihkan; dan
- Termasuk kepemilikan tertentu yang berdasarkan karakteristiknya tidak dianggap tersedia untuk perdagangan publik.
Sederhananya, free float menggambarkan jumlah saham yang benar-benar “berputar” di pasar dan dapat ditransaksikan oleh investor.
Baca juga: Kenali 4 Siklus Saham di Bursa Supaya Cuan Maksimal!
Contoh Sederhana Free Float Saham
Misalnya, sebuah perusahaan memiliki 10 miliar saham tercatat. Komposisi kepemilikannya adalah:
- Pemegang saham pengendali: 7 miliar saham;
- Direksi, komisaris, dan pihak terafiliasi: 500 juta saham;
- Saham treasuri atau saham yang dibatasi: 500 juta saham; dan
- Saham yang tersedia bagi publik: 2 miliar saham.
Dengan demikian, rasio free float perusahaan tersebut adalah:
Free float = 2 miliar ÷ 10 miliar × 100% = 20%
Artinya, sekitar 20% saham perusahaan tersedia untuk diperdagangkan secara bebas oleh publik.
Perhitungan sebenarnya dapat lebih kompleks karena harus memperhatikan status dan hubungan setiap pemegang saham sesuai ketentuan BEI. Oleh sebab itu, investor sebaiknya menggunakan data free float resmi yang disampaikan Bursa atau perusahaan tercatat.
Mengapa Free Float Saham Penting?
Free float bukan sekadar angka dalam struktur kepemilikan. Besarnya saham yang beredar di publik dapat memengaruhi kualitas perdagangan suatu saham.
1. Memengaruhi likuiditas saham
Semakin banyak saham yang tersedia di pasar, semakin besar peluang terjadinya transaksi antara pembeli dan penjual.
Saham dengan likuiditas yang baik biasanya lebih mudah diperjualbelikan. Investor juga berpeluang mendapatkan harga transaksi yang lebih mendekati harga pasar tanpa harus menunggu terlalu lama.
Namun, free float yang besar tidak otomatis menjamin saham selalu likuid. Volume perdagangan, jumlah investor aktif, minat pasar, dan kondisi fundamental perusahaan tetap ikut menentukan.
2. Mendukung pembentukan harga yang lebih wajar
Harga saham terbentuk dari pertemuan permintaan dan penawaran. Apabila saham hanya beredar dalam jumlah terbatas, transaksi yang relatif kecil dapat menyebabkan perubahan harga yang tajam.
Sebaliknya, distribusi saham yang lebih luas dapat membantu proses pembentukan harga atau price discovery berjalan lebih baik. Harga menjadi lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas pasar, bukan hanya transaksi dari sejumlah kecil pemegang saham.
3. Memengaruhi volatilitas
Saham dengan free float kecil cenderung lebih sensitif terhadap lonjakan permintaan atau tekanan jual. Ketika persediaan saham di pasar terbatas, masuk atau keluarnya transaksi dalam jumlah tertentu dapat membuat harga bergerak lebih cepat.
Free float yang lebih besar umumnya membantu memperdalam pasar. Meski demikian, volatilitas tetap dapat terjadi akibat sentimen, kinerja perusahaan, aksi korporasi, maupun kondisi ekonomi.
4. Menarik perhatian investor institusi
Manajer investasi dan investor institusi biasanya mempertimbangkan likuiditas sebelum menempatkan dana dalam jumlah besar. Mereka perlu memastikan saham dapat dibeli atau dijual tanpa menimbulkan perubahan harga yang terlalu signifikan.
Selain itu, free float juga digunakan dalam penghitungan sejumlah indeks saham. Karena itu, perubahan porsi free float dapat memengaruhi bobot suatu saham dalam indeks tertentu.
Aturan Minimum Free Float BEI Terbaru
BEI menerbitkan perubahan Peraturan Nomor I-A melalui Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00045/BEI/03-2026. Peraturan tersebut berlaku sejak 31 Maret 2026.
Salah satu perubahan utamanya adalah peningkatan persyaratan free float bagi perusahaan tercatat menjadi sekurang-kurangnya 15%. Pemenuhannya diberikan secara bertahap berdasarkan kondisi dan kapitalisasi pasar emiten per 31 Maret 2026.
Ketentuan masa transisinya meliputi:
- Perusahaan dengan kapitalisasi pasar minimal Rp5 triliun dan free float di bawah 12,5% wajib mencapai 12,5% paling lambat 31 Maret 2027, kemudian 15% paling lambat 31 Maret 2028.
- Perusahaan dengan kapitalisasi pasar minimal Rp5 triliun dan free float antara 12,5% sampai kurang dari 15% wajib mencapai 15% paling lambat 31 Maret 2027.
- Perusahaan dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp5 triliun diberi waktu untuk mencapai free float 15% paling lambat 31 Maret 2029.
Untuk calon perusahaan tercatat atau emiten baru, persyaratan free float pada saat pencatatan awal menggunakan skema bertingkat sebesar 15%, 20%, atau 25%, bergantung pada nilai kapitalisasi pasar perusahaan.
Aturan baru ini menggantikan ketentuan minimum lama sebesar 7,5%. Karena masih terdapat masa transisi, investor perlu membedakan antara batas akhir yang dituju, yaitu 15%, dengan posisi kepatuhan masing-masing emiten selama periode penyesuaian.
Bagaimana Emiten Menambah Free Float?
Emiten yang belum memenuhi ketentuan dapat meningkatkan jumlah saham di publik melalui beberapa cara, antara lain:
- Pemegang saham pengendali menjual sebagian sahamnya kepada publik;
- Menerbitkan saham baru melalui hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue;
- Melakukan penambahan modal tanpa HMETD atau private placement;
- Melaksanakan program kepemilikan saham karyawan atau manajemen yang memenuhi ketentuan; dan
- Melakukan aksi korporasi lain yang dapat memperluas kepemilikan publik.
Setiap metode memiliki konsekuensi yang berbeda. Penerbitan saham baru, misalnya, dapat menimbulkan dilusi bagi pemegang saham lama. Sementara itu, penjualan saham oleh pemegang saham besar dapat menambah pasokan saham dan berpotensi memberikan tekanan terhadap harga dalam jangka pendek.
Karena itu, investor perlu memeriksa bentuk aksi korporasi yang dipilih, jumlah saham yang dilepas, harga pelaksanaan, serta tujuan penggunaan dana.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Expense Ratio dan Pengaruhnya dalam Reksa Dana
Risiko Saham dengan Free Float Rendah
Free float rendah tidak selalu berarti perusahaan memiliki fundamental yang buruk. Namun, kondisi tersebut dapat menimbulkan sejumlah risiko perdagangan.
Sulit menjual saham
Ketika volume transaksi tipis, investor mungkin tidak langsung menemukan pembeli pada harga yang diinginkan. Selisih antara harga beli dan harga jual atau bid-ask spread juga dapat menjadi lebih lebar.
Harga lebih mudah melonjak atau turun
Jumlah saham yang terbatas membuat harga lebih sensitif terhadap transaksi. Pembelian atau penjualan dalam jumlah yang tidak terlalu besar dapat memicu pergerakan harga yang tajam.
Risiko konsentrasi kepemilikan
Jika sebagian besar saham dikuasai oleh segelintir pihak, pengaruh investor publik terhadap perusahaan menjadi relatif kecil. Investor perlu mencermati hubungan afiliasi dan konsentrasi kepemilikan, bukan hanya persentase publik yang tercantum secara umum.
Tidak selalu mencerminkan nilai wajar
Pada saham yang sangat tidak likuid, harga terakhir belum tentu menggambarkan harga yang mudah diperoleh investor saat melakukan transaksi. Harga dapat terlihat tinggi, tetapi antrean beli yang tersedia mungkin tipis.
Cara Menggunakan Data Free Float Saat Memilih Saham
Free float sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk membeli atau menjual saham. Investor dapat menggabungkannya dengan beberapa indikator berikut:
- Rata-rata volume dan nilai transaksi harian;
- Frekuensi perdagangan;
- Jumlah lot pada antrean beli dan jual;
- Selisih harga bid dan offer;
- Struktur pemegang saham;
- Fundamental dan valuasi perusahaan; serta
- Rencana aksi korporasi yang dapat mengubah jumlah saham beredar.
Sebagai contoh, saham dengan free float 20% belum tentu lebih likuid dibandingkan saham dengan free float 15%. Jika perusahaan pertama berkapitalisasi kecil dan jarang diperdagangkan, nilai transaksi hariannya tetap dapat lebih rendah.
Karena itu, investor perlu melihat free float sebagai salah satu bagian dari gambaran yang lebih besar.
Apakah Free Float Besar Selalu Lebih Baik?
Free float yang lebih besar umumnya memberikan lebih banyak ruang bagi publik untuk bertransaksi. Kondisi tersebut dapat mendukung likuiditas, memperluas basis investor, dan memperbaiki proses pembentukan harga.
Namun, tidak ada satu angka free float yang otomatis menjadikan saham layak investasi. Saham dengan free float tinggi tetap dapat turun apabila kinerja perusahaan memburuk atau valuasinya terlalu mahal. Sebaliknya, saham dengan free float relatif terbatas dapat memiliki bisnis yang baik, tetapi membawa risiko likuiditas yang lebih tinggi.
Kesimpulannya, free float menjawab pertanyaan tentang seberapa banyak saham tersedia di pasar, bukan tentang seberapa bagus bisnis perusahaan.
Kesimpulan
Free float saham adalah porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas oleh investor publik. Angka ini penting karena dapat memengaruhi likuiditas, volatilitas, pembentukan harga, dan daya tarik suatu saham bagi investor institusi.
Investor pemula sebaiknya tidak hanya terpaku pada persentase free float. Perhatikan pula volume transaksi, kedalaman antrean, struktur kepemilikan, fundamental perusahaan, serta aksi korporasi yang sedang direncanakan.
Dengan memahami seluruh faktor tersebut, investor dapat menilai bukan hanya potensi keuntungan suatu saham, tetapi juga kemudahan dan risiko ketika harus keluar dari posisi investasinya. FS
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu.
Sumber: BEI, OJK, dan Bisnis.com. Artikel telah diolah kembali oleh Tim SFAST untuk tujuan edukasi.
